52,9 kg

ridwantaufikk-1464578099332Kacamata materialis dari Barat memandang manusia hanya seonggok tumpukan daging. Kualitas manusia bisa dilihat keelokan parasnya, idealkah proporsi tubuhnya, dan apa2 yang melekat di tubuh itu; fashion branded atau lokal, KW atau original. Maka wajar, lelaki tajir bak jajanan pasar yg dihinggapi banyak lalat bernama wanita. Sebaliknya, lelaki sederhana, tampang pas pasan adanya, dijauhi dan dihapus dari list calon mertua.

Itulah materialisme. Hampir tak ada aspek ruh yang mengemban andil dalam penaikan derajat manusia. Padahal Allah berfirman, “Sesungguhnya yang paling baik di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa”

Beruntunglah, sebagian indikator taqwa itu bersifat abstrak. Tak terjangkau indera. Seandainya taqwa itu nampak seluruhnya, pastilah manusia berlomba dalam mengumpulkan amal. Tetapi Ia berkehendak lain.

Sebagian unsur taqwa ada di dalam hati. Muncul dalam wujud keikhlasan, kekhawatiran akan tertolaknya amal, dan harapan akan diampuninya dosa. Sebagian unsur taqwa muncul dikala bersendiri, tak ada orang yang bersamai. Akankah amal kita sama saat sendiri dan ramai?

Berbekallah, sesungguhnya sebaik bekal adalah taqwa. ———
Photo: My weight lifted 1.5kgs in 2 weeks. Alhamdulillah #health #habit

BIUS!

suntik-bius-dokter-operasiKamu pernah dibius? Saya pernah. Satu bulan yang lalu, dokter melakukannya dalam prosedur pencabutan salah satu gigi geraham kiri di rahang bawah saya. Dengan alat suntiknya pak dokter menginjeksi bius lokal di sekitaran rahang kiri itu. Walhasil, seperempat bagian wajah saya kaku, mati rasa, tak bisa digerakkan, pasrah pada keadaan! Dengan perkakas lengkapnya dokter mengoprek rongga mulut saya. Setelah berjibaku kurang lebih 15 menit (lama banget!), akhirnya si gigi pun tercabut, pensiun dari tugasnya. Saya belum merasa apa-apa. Sampai 15 menit, 30 menit, efek bius mulai menghilang, berangsur rasa sakitnya datang…datang…dan semakin memuncak!

aaaaarrrrrrrggggghhhghhg!

Sakit sekali! Saya harus mengkomat-kamitkan sesuatu, memikirkan sesuatu, menyibukkan diri, melakukan apa saja, agar fokus saya terhadap rasa sakit itu teralihkan. Dan saya benci mengingat air mata saya yang beberapa kali terteteskan. Iya. Sakit sekali. Seolah tidak ada kejadian yang lebih sakit daripada kejadian di hari itu.

Memang begitulah obat bius. Mematikan fungsi syaraf reseptor yang bisa merasakan segala rangsangan. Sobekan, tusukan, jahitan, tumbukan, dan segala rasa sakit yang dihasilkannya. Alhasil organ tidak mengirim sinyal apapun ke pusat syaraf: otak. Organ yang sebenarnya sedang menderita, dianggap otak tidak mengalami apa-apa. “All iz well”, begitu gumam otak kira-kira.

Coba putar otak lagi. Jangan-jangan kita pernah dibius, cuma ga sadar. Saat pemerintah menaikkan BBM, harga-harga merayap naik, rakyat mulai bergejolak, mahasiswa turun ke jalanan, lalu sebagian ‘ustadz’ menyeru, “Sabar-sabar. Harga itu ketentuan Allah. BBM naik itu sudah taqdir”. Gejolak pun teredam.

Saat aset negara satu persatu mulai dijual kepada asing, utang negara melunjak, korupsi merajalela, rakyat semakin mual. Saat pemerintahan makin carut marut, presiden yang tidak becus mengurus negara, lembaga negara saling mengkriminalkan, mahasiswapun kembali turun, dan kita akan melihat, akankah ‘ahli agama’ kembali dengan mikrofonnya, menceramahi kita dengan dalil-dalil ‘kesabaran’ -an sich, hingga gejolak kembali teredam…. dan tidak terjadi apa-apa?

Jika demikian tidak salah tuduhan orang-orang kiri, bahwa agama itu layaknya obat bius. Menyamarkan rasa sakit, meredakan kepahitan hidup. Memberikan penawar palsu dan harapan kosong tentang hari esok yang lebih baik. Agama bukan solusi hidup. Bagaimana menjadi solusi, jika terhadap masalah kita justru disuruh lari dari masalah itu?

Yasalam. Benarkah tuduhan ini? Tentu saja jika para ‘ustadz’ tadi tidak hanya mengajari kita tentang ‘sabar’, ‘sabar’, dan ‘sabar’*, bisa jadi Islam termasuk salah satu agama diantara agama-agama ‘obat bius’. Apakah realitanya seperti itu? Islam adalah agama yang oleh pencipta manusia, diturunkan kepada manusia, untuk masalah-masalah manusia. Maka hukum yang turun dari-Nya pastilah hukum yang paling baik, yang paling sempurna, dan bisa menyelesaikan seluruh permasalahan yang ada. Solusi dari masalah ini ada di berbagai level. Level individu, jama’ah/masyarakat, hingga negara. Jadi, sekadar masalah seperti harga minyak dunia naik, pasti ada solusinya. Masalah korupsi, pasti ada solusinya. Tidak becusnya kepala negara, pasti ada solusinya.

Begini contohnya. Jika harga minyak dunia naik.
Bagi negara: negara memiliki mindset sebagai pelayan rakyat. Minyak adalah kekayaan milik umum yang dikelola oleh negara. Konsekuensinya: SDA Migas haram diserahkan kepada swasta dan asing. Selain itu, hasil pengolahan migas boleh dijual dengan harga produksi, atau harga yang tidak memberatkan. Negara boleh mengambil untung, tapi keuntungan itu digunakan lagi untuk kemaslahatan rakyat seperti pembangunan jalan, jembatan, dan sebagainya. Jika pasokan minyak dari dalam negeri tercukupi dengan pengelolaan sendiri, masalahnya selesai. Mau harga minyak dunia naik, turun, ga ada pengaruhnya. Tapi kalau kurang, negara boleh membeli dari LN. Negara juga harus terus mengupayakan peralihan ketergantungan pada migas ke sumber energi alternatif.

Bagi masyarakat/jama’ah.
Masyarakat harus ber’amar ma’ruf nahi mungkar pada penguasa, yang mempraktikkan ekonomi kapitalisme dan meliberalisasi sumber daya alam migas. Jama’ah-jama’ah islam mesti mengedukasi masyarakat tentang cara Islam dalam mengelola migas. Aktivitas-aktivitas ini hendaknya dilakukan dengan cara yang Islam benarkan, yaitu politis, ilmiah, dan tanpa kekerasan.

Bagi individu.
Individu-individu warga negara, baik muslim maupun non muslim, harus terus bersabar atas masalah yang menimpanya. Memperbanyak dzikir dan do’a. Individu bisa bergabung dan ikut berdakwah dalam memuhasabahi penguasa dan mengedukasi umat. Selain itu, mereka juga bisa menekan angka penggunaan BBM dengan tidak berlaku boros & mubazir.

Sudah cukup tergambarkan? Jadi, alih-alih obat bius yang cuma berfungsi menyamarkan rasa sakit, justru islam adalah penyembuh dari penyakit itu sendiri. Tinggal kitanya, yang selama ini enggan memakai obat bernama Islam. Padahal Islam ini terbukti ampuh menyembuhkan berbagai jenis ‘penyakit’. Ga percaya? Buktikan aja… smile emotikon

Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu, dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS.An-Nahl : 89)

Wallahu a’lam
@ridwantaufikk

*(Sabar dalam artian pasrah; fatalis; berlepas dari sunatullah. Tanpa bermaksud merendahkan amalan ‘sabar’. Sebab mengritik kebijakan pemerintah dengan cara Islam dan dengan ilmu juga termasuk sabar. Sabar adalah amal yang utama, pelaku sabar adalah orang yang utama. Ingat potongan ayat “wabasysyirisshobirin -berilah kabar gembira pada orang-orang yang sabar. Atau “Innallaha ma’asshobirin” -sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.)

Our Life Is Dakwah *part2

Entah apakah memang biasanya begini, atau hanya karena hujan deras beberapa jam sebelumnya. Jama’ah jum’at dalam masjid yang berukuran kira-kira 7 x 20 meter itu hanya berisi 4 shaf. Masing-masing shafnya hanya bisa diisi 10 orang. Pas-pasan. Dua bapak yang tersisa, sedari tadi duduk-duduk di ruang utama usai jumatan itu, mengajak bercengkrama. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan general yang teramat sering diajukan.

“Mas ini tinggal dimana?”
Di Krapyak, Pak.🙂

“Oh, nyantri ya?”
Tidak, Pak. Saya tidak pernah nyantri.🙂

“Berarti Anda kuliah di UIN?”
Tidak, Pak. Saya kuliah di ISI.

“Lalu Anda belajar Islam dimana? Jangan-jangan, Anda belajar sendiri ya?”, ujar bapak yang lebih tua menampakkan ekspresi pelecehannya.

Saya belajar dimana-mana, Pak. Dari satu majelis ke majelis lain. Terkadang kajian majelisnya punya tujuan spesifik, seperti mengajarkan aqidah, tahsin Qur’an, bahasa arab, politik islam, dan sebagainya.

* * * *

Memang tidak salah jika orang-orang underestimate dengan kemampuan kita, mengetahui diri kita bukanlah orang yang belajar islam dalam bangku formal. Orang yang dianggap belajar secara otodidak-meski ungkapan ini tidak seluruhnya dapat diterima- dianggap orang yang tidak memiliki otoritas dalam membicarakan -alih-alih mengajarkan agama.

Sementara siapalah saya? Hanya orang biasa. Pintar, tidak. Cerdas, apalagi. Hanya bermodal semangat, kemauan, ditambah sedikit keberuntungan. Saya telah mencoba meramaikan dakwah Islam ini 6 tahun lamanya. Saya sudah lupa berapa kali mendekati, mengajak orang untuk mengaji, untuk kemudian ditolak dan dijauhi. Saya sudah lupa berapa kali dicitraburukkan karena upaya ini. Saya sudah lupa berapa kali keluarga di Jogja yang basicnya NU tulen mencemooh tugas-tugas rutin yang biasa saya lakukan itu, di hadapan keluarga dan para tetangga.

Sudah lupa.

Hingga saat ini saya rutin mengisi kajian singkat di dua masjid, khutbah jum’at di dua masjid, dua anak untuk diajarkan Qur’an, dan satu kelompok halqoh umum. Selebihnya, saya juga cukup bahagia, dengan bekal amat terbatas ini, telah meninggalkan belasan kader dakwah kampus di setiap angkatan, hasil yang kami kembangkan dan pelihara bersama. Dan kami telah berkomitmen untuk terus meniti jalan berduri ini, meski berat, meski harus menanggung sakit.

Memang, kami hanyalah santri gadungan. Tapi cinta kami akan diin ini tiada terbendung. Rindu kami akan kejayaan Islam tak dapat dikungkung. Kami malu kepada Allah, jika kami hanya berdiam melihat kemerosotan berpikir umat ini. Kami malu kepada Allah, jika kami hanya duduk sementara umat Islam terus ditindas. Kami malu ketika mendapati bahwa para pendahulu kita para shahabat adalah orang-orang terkemuka dalam membela agama diantara kekurangan-kekurangan modalnya? Maka, tidakkah mereka yang terhadap nahwu shorof -menguasai, ilmu balaghoh, ‘ulumul Qur’an, musthalahul hadits, ushul fiqih, menjadi sarapan pagi -seharusnya malu, jika dalam urusan dakwah kami telikung?

Bukankah seharusnya mereka lebih terkemuka dalam membela saat Nabi Muhammad dicela? Bukankah mereka mestinya berada di depan dalam menghalau kezhaliman yang dilakukan penguasa terhadap rakyatnya? Bukan kami, yang cuma anak bawang ini, yang mestinya turun ke jalan, menyenandungkan lagu2 kerinduan pada sistem kehidupan Robbani.

* * * *

“Mas, kapan-kapan silakan ke rumah, ajarkan anak saya Qur’an, sepekan sekali. Kalau bisa ajarkan juga mereka desain grafis.”, kata bapak yang lebih muda.

“Kalau teman saya saja bagaimana, Pak. Saya belum berani, pak. Takut salah.”

“Kalau ada orang minta diajarkan, jangan menolak dulu mas. Tangkap animonya. Cobalah ajarkan dan lihat hasilnya. Lagian saya lebih suka anak saya dididik oleh praktisi, bukan akademisi. Kita belajar formal dimana, tidak menjamin kita ahli di bidang apa. Coba lihat, berapa banyak lulusan IPB yang terjun ke dunia pertanian?”

“Baiklah, Pak. Insya Allah.”🙂

Ideologikah Zionisme?

Alkisah. Usai melingkari Bab Qiyadah Fikriyah yang juga cukup memusingkan bagi mentornya, JAP bertanya, “Jika ideologi di dunia ini ada tiga, lantas dimana posisi zionisme? Apakah ia ada di dalam salah satu, ataukah ia yang ke-empat?”. Ia cukup terusik barangkali dengan tontonan-tontonan seputar konspirasi. Memang kaum Yahudi-Zionis (sering dipelesetkan beberapa kawan jadi Wahyudi-Si Onis :D) yang saat ini diklaim sedang “mengontrol” dunia. Merekalah pemimpin sebenarnya. Bukan Amerika (kapitalis), bukan Rusia (komunis). Amerika dan Rusia sebagai sumbu kepemimpinan menurut teori ini juga hanyalah bagian dari skenario kaum Zionis. 

Kembali ke pertanyaan. Untuk menjawab pertanyaan “Apakah Zionisme termasuk ideologi”, kita perlu paham dulu apa itu 1.ideologi dan 2.zionisme. 

Yang pertama. Kapan sebuah sebuah isme bisa disebut ideologi? Apakah semua isme bisa memenuhi kriteria ideologi? Taqiyuddin Annabhani, menyebutkan bahwa ideologi atau mabda’ adalah “aqidah aqliyah yanbatsiqu ‘anha nizhom” (aqidah yang ditemukan dengan jalan akal, yang memancar darinya peraturan/sistem kehidupan”. Berarti memetakannya mudah saja, asalkan memenuhi kriteria, 1.BERUPA AQIDAH AQLIYAH, 2.MEMANCAR DARINYA SISTEM HIDUP, berarti isme dapat disebut sbg ideologi. Jika tidak, berarti bukan ideologi. Aqidah adalah jawaban yang memuaskan akal terhadap pertanyaan mendasar, “dari mana kehidupan, untuk apa hidup, kemana setelah hidup”. Namun tidak selesai disitu, sebagai konsekuensinya, aqidah akan menemukan solusi2 kehidupan berupa peraturan2 yang bersesuaian dengan tiga jawaban tadi. Maka berbicara tentang tiga ideologi yang dimaksud dalam bab qiyadah fikriyah, kesemuanya telah memenuhi kriteria-kriteria ini. Kapitalisme-sekuler, Sosialisme-komunis, dan Islam, adalah aqidah-aqidah yang memancarkan nizhom. 

Berikutnya, tentang zionisme. Kita perlu paham dengan gamblang siapa, apa dan bagaimana zionisme, agar penghakiman kita tepat, bukan mengada-ada. Pada bagian awal Bab Qiyadah Fikriyah, An-Nabhani menjelaskan berbagai macam bentuk ikatan yang ada di dunia. Dari nasionalisme, kesukuan, kerajaan, maslahat, rohani, dan sebagainya. An-Nabhani menuliskannya untuk mengajak para pembaca memahami, bahwa ikatan-ikatan yang disebutkan adalah ikatan yang lemah, tidak shohih, dan tidak mampu membangkitkan manusia. Satu-satunya ikatan paling shohih, kuat, dan mampu membangkitkan manusia adalah ideologi. Tiga ideologi dunia (islam, kapitalisme, sosialisme) adalah ikatan2 yang bisa membangkitkan manusia (meskipun kapitalis-sosialis mesti puas dicap An-Nabhani sebagai ideologi yang membangkitkan dengan kebangkitan yg semu.  ). Nah, karena itu jangan buru-buru memasukkan zionisme ke dalam kelompok ideologi. Sebab bisa saja ia cuma salah satu diantara bentuk ikatan-ikatan yang lemah. 

Memang benar, ada kemungkinan bahwa orang-orang di dalam zionisme-lah yg mencetuskan kapitalisme juga sosialisme. Seperti Adam Smith, penulis The Wealth of Nation, yg oleh murid2nya sprti David Ricardo “diangkat” sbg Bapak Kapitalisme. Atau Karl Marx, yang Das Kapital-nya mengkritik total konsep ekonomi Kapitalis yang sukses memiskinkan sebagian eropa termasuk dirinya. Keduanya dituduh sebagai keturunan tulen Yahudi-Zionis.

Zionisme menurut Wikipedia (Wow. Percaya om Wiki? :D) adalah gerakan nasional orang Yahudi dan budaya Yahudi yang mendukung terciptanya sebuah tanah air Yahudi di wilayah yang didefinisikan sebagai Tanah Israel (Eretz Israel). Sedangkan Yahudi (masih menurut Om Wiki :D) adalah istilah yang merujuk kepada sebuah agama atau suku bangsa. Sebagai agama, istilah ini merujuk kepada umat yang beragama Yahudi. Berdasarkan etnisitas, kata ini merujuk kepada suku bangsa yang berasal dari keturunan Eber (Kejadian 10:21) (yang disebut “Ibrani”) atau Yakub (yang juga bernama “Israel”). Dari pengertian ini bisa diambil kesimpulan, bahwa Yahudi adalah agama bangsa, yang disebarkan bukan dengan cara dakwah, namun dengan “darah” (maksudnya keturunan). Tidak kita temukan adanya misi Yahudi sebagaimana misionaris Kristen atau muballighin Islam. Pemeluk kedua agama ini begitu bersemangat memasukkan sebanyaknya manusia ke dalam agama mereka. Karena itu, kita juga tak bisa sesuka hati mengikrar diri “Saya telah berpindah agama menjadi Yahudi”, sebagaimana semudah kita bersyahadah “Asyhadu an laa ilaaha illallah”, segampang kita mengaku diri sbg Kristian, Buddhis, Atheis, Sosialis atau Kapitalis. O tidak bisa…

Yahudi adalah agama dengan corak khusus, yang beridentitas bangsa. Sebagai orang yang lahir di Banjarmasin, dari keturunan Jawa dan Toraja, saya saja sulit mengidentifikasi identitas kesukuan saya. Saya tidak bisa mengklaim sebagai Orsun (orang sunda), orang batak, arab, apalagi yahudi. Toh kalau saya mengaku-ngaku, pengakuan saya tidak ada gunanya.

Nah begitu juga dengan yahudi-zionisme. Zionisme hanyalah gerakan solidaritas yang berdiri diatas paham agama bangsa (Yahudi). Zionisme sendiri bukanlah ideologi, ia hanya gerakan, dan memang tidak semua gerakan dimotivasi oleh ideologi. Bisa saja motivasinya rohani, maslahat, kekuasaan, kepemimpinan dunia. Jika kita mau mengatakan bahwa zionisme yang sekarang berkuasa, gerakan zionisme juga mengendarai kendaraan yang kita akui bersama. Kendaraan itu adalah ideologi. Ingat ciri kedua ideologi, “memancar darinya sistem hidup”. Pertanyaannya, adakah sistem hidup Zionis? Ekonomi Zionis, pemerintahan zionis, tata pergaulan zionis, dsb? Tidak, kan? Yang ada ekonomi kapitalisme, sosialisme, islam. Sistem pemerintahan, adanya pemerintahan kapitalisme (dengan demokrasi-trias politica), sosialisme, dan juga Islam (Khilafah). Seperti yg sy tulis diatas, adapun jika kita telah membuktikan pengaruh Zionisme dalam penciptaan sistem kapitalis-sosialis, itu adalah pembahasan yang lain.

Walhasil semoga bisa (membantu) menjawab.

B-BOY ALAM BAKA

headstand2

Anda ingat istilah breakdance? Mari bertamasya ke beberapa tahun, mungkin, 7 atau 10 tahun lalu. Breakdance adalah salah satu hobi yang cukup digandrungi anak muda pada masanya. Tarian ini berasal dari budaya hip-hop di Amerika Serikat. Untuk bisa melakukan breakdance dibutuhkan keahlian dan jam latihan yang tinggi. Resiko paling ringan memar, keseleo, benjol. Resiko tingkat lanjut: patah tulang, gegar otak. Wajar ya dikasi nama breakdance. Break: hancur, dance: tarian. Tarian yang menghancurkan. Hii.

B-boy, adalah sebutan yang diberikan bagi para penari breakdance. B-boy biasanya beraksi ditengah kerumunan di pinggir jalan. Dengan iringan musik remix dan beat yang menghentak-hentak, B-boy melakukan gerakan-gerakan ekstrim yang sangat bervariasi. Seperti berputar-putar, baik dengan tumpuan tangan atau kepala, jungkir balik, hand stand (berdiri dengan tangan), suicide (bunuh diri?), freeze (membeku), atau headstand dan headwalk (berdiri dan jalan dengan kepala. ckckck). Kalau kita melihat atraksi mereka secara langsung, kita bisa berdecak atas keahlian mereka memadukan berbagai gerakan berbahaya tersebut.

Masanya breakdance memang sudah berakhir. Tapi tak perlu kecewa, gais. Yang belum sempat nonton pertunjukannya, kita masih bisa menyaksikan sebagian gerakan breakdance di akhirat kelak. Hanya saja ‘pertunjukan’ ini tidak akan tampak keren sama sekali. Malah mengerikan. Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ يُحْشَرُونَ عَلَى وُجُوهِهِمْ إِلَى جَهَنَّمَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ سَبِيلا

Orang-orang yang dihimpunkan ke neraka Jahanam dengan DISERET DI ATAS WAJAH-WAJAH MEREKA, mereka itulah orang yang paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya. (QS.Al-Furqan: 34)

Kata الَّذِينَ dalam penggalan surat Al Furqan ini merujuk pada orang-orang kafir, sebagai rangkaian sambungan dari ayat 32 dan 33 “وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا” (dan berkatalah orang-orang kafir). Di hari kiamat, tanda-tanda orang kafir akan Allah SWT tampakkan dengan cara berjalannya yang menggunakan wajah.

Allah SWT juga berfirman:

أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمْ مَنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Maka apakah orang yang BERJALAN TERJUNGKAL DI ATAS WAJAHNYA itu lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus? (QS.Al-Mulk: 22)

Imam Ibnu Katsir dalam menafsiri Surah Al-Mulk yang 22, menyebutkan bahwa ayat tersebut menunjukkan perumpamaan yang Allah SWT berikan bagi mukminin dan kafirin. Perumpamaan tersebut bukan hanya perumpamaan tentang hidup mereka di akhirat, namun juga saat mereka masih hidup di dunia.

Ialah orang kafir, yang berjalan diatas wajahnya, dengan miring & tidak normal. Ia tidak mengetahui kemana ia berjalan. Ia tidak tahu kemana pergi. Ia linglung, bingung, tersesat. Digiringlah ia ke dalam neraka jahannam, dengan menyeret-nyeret wajahnya. Allah bertanya, “Ahdaa”, apakah orang-orang seperti ini yang mendapatkan petunjuk?

Amman yamsyi sawiyyan ‘alaa shirotim mustaqiim”, ataukah orang-orang yang berjalan tegak diatas jalan yang lurus? Ialah orang mukmin, di dunia ia berjalan dengan arah yang jelas, langkah yang teratur. Sebab ia berjalan dengan mengikuti petunjuk yang ia dapatlan. Jalan kebenaran terang-benderang di hadapannya. Demikian pula di akhirat. Ia berjalan dengan tegap, digiring para malaikat di atas jalan yang lurus menuju pelataran surga.

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dalam sebuah hadits yang termuat dalam shahihain, mengatakan bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. “Bagaimana orang-orang kafir itu, pada hari kebangkitan, mampu berjalan dengan wajah mereka?” Maka Rasulullah menjawab, “Bukankah Rabb yang mampu menjadikan mereka berjalan dengan kaki-kaki mereka, mampu pula menjadikan mereka berjalan dengan wajah mereka?”. Shodaqo Rasulullahil Kariim.

Na’udzubillah. Istighfar yuk, sobat. Semoga kita tidak termasuk golongan yang digiring dan diseret di atas wajah kita menuju neraka. Semoga kita tidak termasuk golongan “b-boy alam baka”.

(@ridwantaufikk)

Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi

 

ctesiponIni adalah kisah tentang iman sekokoh karang. Tentang tauhid yang memecah badai topan. Kisah mengagumkan dari sahabat-sahabat nabi. Hamba-hamba Allah yang ia pilihkan sebagai generasi teladan bagi setiap zaman.

Tahun 6 Hijriyah, menandai babak baru nilai tawar Madinah sebagai sebuah supremasi politik yang berdaulat di semenanjung Arab. Kecil, namun getarannya beresonansi ke negeri-negeri sekitar, termasuk dua adikuasa pada zaman itu, Romawi dan Persia. Persia/Parsi dengan luas kekuasaan 7.000.000 km2 terhampar di sebelah timurnya. Sementara Romawi, membentang 5.000.000 km2 dari Mesir, Syam, Anatoli, hingga Itali, di sebelah baratnya. Kumpulan kecil di Madinah itu terus menggeliat, bagaikan ulat pohon, melumat daun-daun makanannya dengan cepat.

Diantara kumpulan kecil tersebut ada pemuda bernama Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi. Ia memang tak seterkenal Abu Bakar, Umar, Utsman, ‘Ali, radhiyallahu ‘anhum. Namun ialah saksi hidup yang melihat dengan kedua matanya dua pimpinan kekuasaan kufur, Persia & Romawi.

Rasulullah memilih Ibnu Hudzafah untuk menyampaikan surat kenabian pada Kisra, Kaisar Persia, mengajaknya masuk ke dalam agama keselamatan, tunduk sebagai hamba Allah, dan berdiri di bawah bendera tauhid. “Fa aslim, taslam (maka masuk Islamlah, dan engkau akan selamat”, salah satu redaksi yang tertulis di surat tersebut.

Tombak pengawal Kaisar Persia menodongnya, saat Ibnu Hudzafah mendekati singgasana penguasa imperium itu. “Saya diminta Rasulullah menyerahkan langsung surat ini kepada Anda, tanpa perantaraan pengawal”, ujar Ibnu Hudzafah. “Biarkan ia”, kata Kisra.

Belum selesai alinea pertama ia baca, surat tersebut langsung dirobek-robek lantaran nama Muhammad-lah yang disebut paling awal, bertentangan dengan aturan penulisan surat di negeri Parsi. Dengan muka merah, pecahlah kemarahan Kisra, “bagaimana ia berani menulis surat kepadaku dengan cara begitu, padahal ia adalah budakku!”.

Ibnu Hudzafah kemudian diusir pulang, lantas menyampaikan kejadian yang dialaminya pada Rasulullah. “Allah ‘kan merobek kekuasaannya, seperti ia merobek suratku”. Bukan Rasul jika ucapannya tak terbukti. Maka terkejutlah saat seseorang pesuruh Persia dari Yaman menjemput Rasulullah untuk bertemu Kisra. Ia menerima kabar dari Rasul tentang kematian Kisra atas anaknya sendiri, Yazdajird. Kala itu Persia porak poranda karena perang saudara. Hal ini menyebabkan negeri 1001 malam ini dengan mudah ditaklukkan kaum muslimin dibawah panglima Sa’ad bin Abi Waqqash ra.

Sedang kisah pertemuan Ibnu Hudzafah dengan penguasa Romawi, terjadi di masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Ia turut serta dalam tentara penaklukan Syam. Di tengah perjalanan kaum muslimin, sampai berita pada Raja Romawi tentang tabiat pasukan musuhnya yang senantiasa menghiasi diri mereka dengan iman, akidah yang kokoh, ibadah yang kuat, dan kerelaan mengorbankan nyawa di jalan Tuhannya. Berita ini mendorong Raja Romawi memerintahkan pasukannya menangkap sebagian tentara muslimin, demi membuktikan ucapan tersebut. Dengan kehendak Allah, Allah masukkan Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi, salah satu tawanan yang tertangkap itu.
Tentara kafir membawa Ibnu Hudzafah ke hadapan Raja Romawi, lalu berkata, “Orang ini termasuk yang pertama dari sahabat Muhammad, yang masuk ke dalam agamanya”.

Dengan teliti Raja melihat ke arah Ibnu Hudzafah, kemudian dia berkata, “Masuklah kamu ke dalam agama nasrani. Jika kamu berkenan dengan tawaran ini maka aku akan membebaskanmu, dan memberikanmu kedudukan yang tinggi”.

“Mana mungkin, kematian seribu kali lebih aku sukai daripada memenuhi ajakanmu itu”, jawab Ibnu Hudzafah dengan keteguhan dirinya.

Aku melihatmu sebagai lelaki pemberani, jika kamu menerima tawaranku maka akan kubagi kekuasaanku denganmu, lalu kita sama-sama memerintah dan menguasainya”.

Dengan keteguhan yang bertambah, Abdullah bin Hudzafah dengan tangan terikat tambang melantangkan ucapnya, “Demi Allah, seandainya kamu menyerahkan semua yang kamu miliki dan segala yang dimiliki orang-orang Arab, dengan syarat aku meninggalkan agama Muhammad sekejap pun, niscaya aku takkan melakukannya”.

Raja berkata, “Kalau begitu, aku akan membunuhmu”.

Ibnu Hudzafah menjawab, “Lakukan saja yang ingin kau lakukan”.
Tangan Ibnu Hudzafah kemudian diikatkan di tiang salib. Atas perintah Raja Romawi, pengawal-pengawalnya melepaskan anak-anak panah ke dekat tangannya. Anak panah lain juga dilesatkan dengan hampir mengenai kedua kakinya. Sementara Raja tetap menawarkan kepada Abdullah agar mengganti agamanya, namun ia menolak.

Mulai terlihatlah raut putus asa dalam wajah penguasa negeri barat itu. Ia lalu meminta agar sebuah bejana besar berisi minyak disiapkan, kemudian diangkat ke atas tungku api hingga minyak tersebut mendidih. Raja lalu meminta dua orang tawanan dari kaum muslimin dihadirkan, lalu memerintahkan agar keduanya dilemparkan ke dalam bejana, digoreng di dalam minyak panas itu. Daging dari muslim yang mulia tersebut terkelupas, sehingga tulangnya terlihat telanjang.

Di saat itu, Kaisar menoleh kepada Ibnu Hudzafah, dan kembali mengajaknya murtad, namun apa dinyana, Ia justru menolak lebih keras daripada sebelumnya.

Tatkala Raja semakin berputus asa darinya, ia perintah pengawalnya agar melemparkan Abdullah bin Hudzafah ke dalam penggorengan itu, seperti dua saudara sebelumnya. Disaat pengawal membawa Ibnu Hudzafa, ia mulai menangis, sehingga nampak para pengawal itu berkata pada raja mereka. “Dia menangis”.

Raja Romawi menyangka bahwa Ibnu Hudzafah telah dibayangi ketakutan akan kematian. Dia berkata, “kembalikan orang itu kepadaku”. Saat Abdullah telah berdiri dihadapan singgasana, Raja kembali mengulangi tawaran agar Abdullah masuk ke dalam agamanya, namun ia tetap menolak.

Raja lalim ini menghardik, “Celaka kamu, lalu apa yang membuatmu menangis?”

Ibnu Hudzafah menjawab, “Yang membuatku menangis adalah bahwa aku berkata pada diriku sendiri, ‘Kamu sekarang akan dilemparkan ke dalam bejana. Jiwamu akan pergi. Aku sangat ingin memiliki nyawa sebanyak jumlah rambut yang ada ditubuhku, lalu semuanya dilemparkan ke dalam bejana itu, fii sabilillah.”

Subhanallah. Kematian tak sedikitpun menggoyahkannya dari iman kepada Allah. Justru kematian di jalan Allah adalah sesuatu yang amat ia rindu-rindukan. Dan bila perlu ia memilih untuk mati berkali-kali demi meraih kemuliaan dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah swt.

Akhirnya thagut itu menyerah dan berkata, “Apa kamu mau mencium kepalaku dan aku akan membebaskanmu?”

Abdullah bin Hudzafah menjawab, “Dan melepaskan seluruh tawanan muslimin?”

Didalam hatinya Ia bergumam, “Wahai musuh Allah, aku akan mencium keningmu, lalu seluruh kaum muslimin bebas, maka tidak mengapa aku melakukan itu”

Abdullah mendekat dan mencium kening Raja Romawi. Maka Raja memerintahkan agar seluruh tawanan dikumpulkan dan diserahkan pada Ibnu Hudzafah.

Sekembalinya ke Kota Madinah, Ibnu Hudzafah datang kepada Amirul Mukminin lalu menceritakan kisahnya. Maka Al-Faruq sangat berbahagia karenanya. Umar melihat ke arah para tawanan, maka ia berkata, “Sungguh patut bagi setiap muslim untuk mencium keningmu. Dan akulah yang pertama kali melakukannya”. Radhiyallahu ‘anhu, Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi.

—————–
*Diolah dari Kisah Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi di dalam buku “Mereka Adalah Para Sahabat”, karya Dr. Adurrahman Ra’fat Basya.

Continue reading Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.